Berbicara Terkait Kurikulum (Miftahul Jannah 11811103)
Bismillah,
Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh
Hallo
teman-teman,,
Yang saya hormati Ibu Farninda Aditya, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Magang 2, dan yang saya banggakan teman-teman seperjuangan kelas PAI C. Semoga kita selalu diberikan kelancaran serta kemudahan didalam menempuh pendidikan. Sebelum kita masuk kepada inti pembicaraan, saya sedikit berbicara mengenai Pendidikan yang saya baca dari buku Prof.Dr. Hamid Darmadi, M.Pd., M.Sc yang berjudul “Pengantar Pendidikan Era Globalisasi”. selama ini pendidikan secara umum dapat dikatakan sebagai pembelajaran dimana berupa pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang terus menerus dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Apalagi saat pandemic seperti ini, perubahan teknologi dari masa ke semasa mengalami perkembangan, disatu sisi membawa dampak negatif, disisi lain membawa dampak positif. Selain itu juga, dampak perkembangan teknologi telah mengubah kurikulum dari waktu ke waktu. Dulu katanya setiap pergantian Menteri, maka kurikulum mengalami perubahan. Pandangan tersebut saya anggap disatu sisi benar. Pemimpin mengubah kurikulum adalah untuk membuat sejarah tersendiri di periode masanya sebagai pemimpin. Kurikulum wajib mengalami perubahan karena perkembangan teknologi terus berjalan, jika kurikulum tidak berubah maka hasil anak didikan nantinya tidak mampu menguasai teknologi sekaligus mengoperasikannya. Bukan hanya kurikulum yang berpengaruh terhadap sebuah Pendidikan namun pada zaman sekarang pendidik dan tenaga kependidikan sangat berpengaruh, dimana guru bukan hanya memiliki ijazah tetapi diakui secara profesional yang seperti Al-Zarnuzi seorang tokoh pendidikan klasik katakan, bahwa seorang guru haruslah menguasai materi, memiliki kematangan emosional dan berpengetahuan. Jika dilihat, peran dan tanggung jawab pendidikan sebenarnya tidak mengalami perubahan, tetapi yang mengalami perubahan adalah masa, yang mana pada zaman dahulu pasti mengalami perbedaan di zaman sekarang, sehingga siswa-siswa pun memiliki karakter yang berbeda-beda dengan masa yang berbeda-beda. Kita sebut saja, guru di era 80-an merasa kesulitan dalam menerapkan kurikulum 2013, karena dalam pengisian raport siswa sudah menggunakan komputer, sehingga guru yang tidak bisa mengoperasikan komputer maka meminta bantuan kepada anaknya atau kepada lainnya yang bisa mengoperasikan komputer. Namun, era milineal saat ini jika dibandingkan era 80-an lebih menonjol dari karakternya, sehingga perubahan kurikulum adalah perubahan yang lebih menitikberatkan kepada karakter.
Oke teman-teman, langsung saja. Disini saya membaca mengenai Kurikulum dalam buku Aslan dan Wayudin berjudul “Kurikulum Dalam Tantangan Perubahan”. Kurikulum dalam dunia pendidikan ini yang bukan hanya di indonesia, tetapi berbagai negara, bahwa perubahan kurikulum tersebut dapat dilihat dari filosofinya, sosialnya, psikologi dan hakikat dari pengetahun yang dimiliki oleh pengembangan kurikulum. Hal ini juga tidak menjadi masalah, jika dikatakan bahwa perubahan pergantian Menteri, maka akan berganti juga sistem kurikulumnya. Tujuan pemerintah untuk selalu diadakan pembaharuan kurikulum adalah untuk menghadapi tantangan zaman sehingga segala usaha apa saja untuk menempuh dari perubahan kurikulum tersebut, selalu dilakukan, tetapi apa yang selama ini diharapkan hanya sebatas mimpi. Pada era masa penjajahan Belanda di Indonesia, kurikulum diterapkan di Sekolah-sekolah yang dikuasi oleh Belanda. Akan tetapi, ciri khas kurikulum pada zaman belanda dengan sekarang sangat jauh berbeda, karena Belanda menguasai Indonesia sehingga kurikulum hanya untuk kepentingan dari Belanda. Misi penjajahan Belanda pada waktu itu adalah untuk menyebarkan agama kristen dan memberikan pendidikan kepada rakyat indonesia agar mempermudah melaksanakan perdagangan dengan masyarakat pribumi. Perbedaan dari pendidikan yang diberikan oleh Belanda sangat jauh berbeda sekali dengan orang Belanda dan pribumi. Orang Belanda bisa saja menempuh pendidikan sampai pada Perguruan Tinggi dan bisa mempelajari kesehatan. Sementara, masyarakat Pribumi, hanya menempuh pendidikan untuk menjadi seorang Guru. Sejarah dari ini, sehingga sampai sekarang masyarakat pribumi lebih senang menjadi Guru daripada pengusaha, karena sudah direncakan oleh kolonial Belanda sebelumnya. Jadi tidak heran, banyak Universitas di Indonesia ini, dipenuhi oleh Jurusan Guru. Secara garis besarnya, dari kurikulum yang ada pada waktu penjajahan Belanda dan Jepang tidak terlepas dari tujuan mereka tersendiri. keuntungan bagi rakyat Indonesia adalah dari yang tidak tahu membaca dan menulis menjadi tahu. Dalam pepatah Melayu mengatakan ”makan keris berakkan kace, tidak tahu menulis dan tidak tahu membace”. Dengan adanya kehadiran dari penjajahan Belanda dan Jepang, sehingga pepatah dari Melayu tersebut ikut juga mengalami kepudaran.
Kemerdekaan yang diperoleh oleh Indonesia, perubahan pada kurikulumnya terdiri dari periode kurikulum sederhana (1947-1964), pembaharuan kurikulum (1968 dan 1975), kurikulum berbasis keterampilan proses (1984 dan 1994), dan kurikulum berbasis kompetensi (2004 dan 2006). (baca: Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia). Dilihat dari sejarahnya, kurikulum 1975 sampai sekarang berubah menjadi kurikulum 2013, secara keseluruhan adalah menjadi kritikan yang sangat pedas karena terlalu banyak materi yang padat dan diajarkan kepada siswa. Setelah bangsa indonesia merdeka dari penjajahan, Pemerintah sudah mencanangkan dalam programnya yakni mengutamakan pendidikan. Pada UUD 1945, pasal 31 ayat 1 Bab XIII menyebutkan, bahwa ”tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”. Gagasan dari Menteri Pengajaran yang baru pertama kali dijabat oleh Ki Hajar Dewantara pada waktu Indonesia baru beberapa tahun merdeka, dalam bidang pendidikan untuk memajukan indonesia agar tidak dikukung oleh pendidikan dari kurikulum Belanda, sehingga Ki Hajar Dewantara memberikan instruksi kepada Guru yang ada di seluruh Indonesia untuk memberikan pendidikan yang dapat menumbuhkan semangat perjuangan anak-anak tentang kemerdekaan yang barus aja diperoleh oleh Indonesia. “Pada tanggal 1 Maret 1946 dengan Surat Keputusan no. 104/ Bhg.0/1946 dengan Sekertaris Panitia Soegarda”. Rumusan dari tujuan pendidikan nasional diantaranya: Perasaan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, Perasaan cinta kepada alam, Perasaan cinta kepada negara, Perasaan cinta dan hormat kepada ibu dan bapak, Perasaan cinta kepada bangsa dan kebudayaan, Perasaan berhak dan wajib memajukan negaranya menurut pembawaan dan kekuatannya, Keyakinan bahwa orang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga dan masyarakat, Keyakinan bahwa orang yang hidup dalam masyarakat harus tunduk pada tata tertib, Keyakinan bahwa pada dasarnya manusia itu sama derajatnya sehingga sesama anggota masyarakat harus saling menghormati, berdasarkan rasa keadilan dengan berpegang teguh pada harga diri, Keyakinan bahwa negara memerlukan warga negara yang rajin bekerja, mengetahui kewajiban, dan jujur dalam pikiran dan tindakan.
Dari beberapa penjelasan tentang perubahan kurikulum sejak bangsa indonesia ini dijajah oleh Belanda dan Jepang sampai sudah merdeka dan sudah di zaman era globalisasi saat ini, maka perubahan kurikulum pasti akan berlanjut terus-menerus. Siapa yang akan memerintah Indonesia ini, maka nama dari kurikulum tersebut pasti ada, yang bisa saja dari filosofi pendidikannya maupun dari hasil pemikirannya sendiri. Sebagai intelektual dalam bidang pendidikan, kita hanya menerima dari kurikulum tersebut dan mengimplementasikannya di sekolah-sekolah. Masalah berhasil dan tidaknya tergantung dari waktu yang menentukannya. Karena, pada dasarnya setiap siapa yang memerintah Indonesia ini, maka pencapaian dalam memimpin Indonesia perlu diukir dalam tinta emas, agar selalu kita ingat sampai akhir hayat. Oleh karena itu, perubahan dari kurikulum adalah wajar, sehingga perubahan akan terus berlanjut seiring dengan zamannya. Semakin besar tantangan zaman tersebut, maka semakin besar juga perubahan dari kurikulumnya karena zaman yang telah mengubahnya